Metrotvnews.com, Yogyakarta: Negara maju dan negara berkembang tidak satu suara berkomitmen menurunkan penggunaan emisi gas karbon dioksida atau gas rumah kaca sehingga mempercepat perubahan iklim. Hingga saat ini belum terjadi kesepakatan antara negara-negara maju dengan negara-negara berkembang tentang pengurangan gas emisi karbon dioksida (CO2).
"Negara berkembang, salah satunya Indonesia berseberangan pendapat dengan negara-negara maju tentang pengurangan emisi gas karbon dioksida," ungkap Ketua Dewan Nasional Perubahan Iklim Rachmat Witoelar seusai menghadiri Konferensi ke-10 Asia Pasific Roundatble for Sustainble Consumption and Production (APRSCP) di Yogyakarta, Kamis (10/11).
Menurut dia, perbedaan pendapat itu muncul dalam berbagai forum internasional membahas perubahan iklim dunia. Dia mengatakan negara-negara maju tidak mau mengurangi emisi gas karbon dioksida sesuai kesepakatan dalam Protokol Kyoto, yakni pengurangan emisi gas rumah kaca sebesar 26 hingga 40 persen.
"Negara-negara maju hingga kini masih bersikukuh dengan pendapatnya tidak mau mengurangi penggunaan emisi gas karbon akibat proses industri," kata dia.
Menurut dia, sikap negara-negara maju yang tidak mau mengurangi emisi gas karbon menunjukkan sikap yang peduli terhadap kerusakan dunia. "Sebagai negara yang terhormat tidak pantas bersikap seperti itu. Semestinya negara-negara maju menjalankan tanggung jawab terhadap kerusakan dunia yang disebabkan industri secara besar-besaran," katanya.
Ia mengatakan jika dilihat dari sejarah perkembangan industri, maka negara maju terlebih dahulu menjadi penyebab perubahan iklim akibat gas emisi karbon dioksida. "Polusi udara akibat gas emisi karbon dioksida banyak disumbang negara maju yang telah mendirikan industri puluhan tahun lalu," katanya.
Oleh karena itu, negara maju menurutnya, harus bertanggung jawab terhadap pencemaran emisi gas karbon. "Amerika Serikat misalnya sebagai salah satu anggota negara maju seharusnya bisa melakukan hal yang lebih baik untuk mengurangi penggunaan emisi gas karbon," katanya.
Ia mengatakan posisi Indonesia dalam forum internasional adalah berkomitmen menurunkan penggunaan gas emisi karbon sesuai ketentuan Protokol Kyoto. "Indonesia berkomitmen menurunkan penggunaan emisi gas karbon sebesar 26 persen sesuai konvensi," katanya.
Menurutnya, Indonesia akan terus mendukung dan berempati terhadap negara-negara berkembang yang mengalami kondisi lingkungan yang memprihatinkan akibat perubahan iklim. Dia mengatakan negara-negara berkembang terus mendesak negara maju untuk mengikuti ketentuan konvensi tentang penurunan emisi gas karbon.
"Kami terus membujuk negara maju melalui dialog dengan negara-negara maju di berbagai forum internasional. Indonesia sebagai salah satu negara yang juga dirugikan akibat emisi gas karbon beberapa kali telah berbicara keras tentang emisi di sejumlah forum internasional," kata dia.
Ia mengatakan kendala yang dihadapi negara berkembang saat ini adalah tidak terjadinya konsensus dalam berbagai konvensi internasional. "Jika 10 anggota dari 180 negara anggota yang berbicara pada forum internasional, maka konsensus tidak akan terjadi," katanya.
"Beberapa delegasi kami di forum internasional sempat stres membujuk negara maju lebih peduli pada perubahan iklim," katanya.
Dia mengatakan negara-negara berkembang akan terus berdialog dengan negara maju pada Desember tahun ini membahas perubahan iklim di Durban. "Kami akan terus berbicara dan mendorong negara maju melihat sisi kemanusiaan akibat perubahan iklim," katanya.
Menurutnya, batas kesepakatan seluruh negara tentang pengurangan emisi gas karbon adalah pada 2012. "Semua negara harus menghasilkan kesepakatan pada 2012 untuk mengatasi perubahan iklim yang semakin berlangsung cepat," kata dia.(Ant/BEY)
10/11/11
Langganan:
Posting Komentar (Atom)