Sosial Ekonomi yang Rapuh

,

Bangunan Sosial-Ekonomi  Bangsa yang Rapuh

KALEIDOSKOP sejarah beragam yang mewarnai perjalanan dari tahun ke tahun seyogianya disikapi secara bijak dalam menapaki kehidupan bangsa. Beberapa persoalan penting dan paling menonjol yang menghiasi lembaran sejarah sepanjang tahun ini, antara lain adalah : upaya pemberantasan korupsi, kekerasan (keamanan), pemulihan ekonomi dan bencana alam. Untuk menyelesaikan sederet persoalan itu diperlukan komitmen moral dan integritas bersama. Anti Suap Dunia Usaha serta pemerintah membentuk Kmisi Anti Korupsi dan lainnya.
          Terbentuknya institusi tersebut memiliki nilai positif dan harus didukung bersama. Tampaknya kita sangat bernafsu untuk memberabtas praktek KKN, tapi baru  sebatas bazaar kata-kata. Pada tataran ini kita seolah “lemah sahwat” atau “ejakulasi dini” dalam pemberantasan korupsi. Mengapa? Korupsi di era otonomi daerah bukan hnya dilembaga pemerintah tapi juga di legislative. Ada banyak kenyataan bahwa praktek korupsi di DPRD khususnya saatnya pemilihan kepala daerah mencuat sekali. Kalo praktek ini dibiarkan, tidak menutup kemungkinan bangsa ini akan bangkrut atau kolaps.
 
Kekerasan (Keamanan)
       Ancaman terorisme, kekerasan di Poso, kerusuhan di Ibukota, serta ditempat lain bahkan merambah ke lembaga pendidikan, yang nota bene melahirkan manusia Indonesia yang berkualitas dan bermoral. Salah satu peristiwa yang mengemuka adalah meninggalnya Wahyu Hidayat (20), mahasiswa Madya Praja (tingkat II) Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN), Jatinangor, Bandung.
          Kekerasan senior terhadap junior memang bukan hal baru di lembaga pendidikan yang satu ini. Junior sering diperlakukan tidak adil dan tidak manusiawi. Sering dibentak sampai diberi makanan basi dan mennjijikan, juga diperlakukan hukuman yang bersifat fisik. Sayangnya sok pintar, sok kuasa, sok ngatur, dan lainnya. Sekolah  ala militer ini sering menghadirkan budaya kekerasan sehinngga pendidikan yang seharusnya menghasilkan SDM yang berkualitas dan beradab justru tidak tercapai.
          Kekerasan lain berupa tindak kriminalitas yang tidak segan-segan berperan sebagai “malaikat pencabut nyawa” antara sesame anak bangsa ini. Angka pengangguran dan kemiskinan yang terus meningkat mennyebabkan banyak warga masyarakat mencari kehidupan dengan merampok, memeras orang lain dan lain sebagainya.


Pemulihan Ekonomi
          Masalah pemulihan ekonomi menjadi sorotan yang serius dimana kebijakan pemerintah sering tidak menyentuh kepentingan rakyat secara langsung. Bahkan seringkali terjadi kebijakan pemerintah yang tidak popular seperti menaikkan harga kebutuhan pokok masyarakat.
          Terus meningkatnya harga kebutuhan pokok membuat masyarakat yang sudah sulit semakin sulit lagi untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Angka pengangguran dan kemiskinan yang meningkat sebagai alas an utama orang terus mencari sesuap nasi agar bisa bertahan hidup. Tidak sedikit anak bangsa ini harus berdebu dan terpanggung di jalanan sebagai anak jalanan, pengemis, penjaja koran, pedagang asongan, dan lainnya.
          Saat bulan puasa ada berita yang membuat hati kita menjadi miris, yaitu meninggalnya banyak orang saat pembagian zakat. Peristiwa tragis itu seharusnya mengingatkan para pemimpin, pejabat, dan politisi kita agar lebih membagi perhatian mereka kepada nasib rakyat kecil yang mereka harapkan nanti mendukung mereka dalam Pemilu. Mana janji-janji pemimpin partai waktu kampanya Pemilu lalu yang katanya akan membela rakyat kecil. Bahkan ada pemimpin yang kini berkuasa menyebut partainya sebagai partai wong cilik.
          Tamparan ini merupakan kegagalan penyelenggaraan negara untuk memenuhi amanat konstitusi bahwa pencari sedekah itu seharusnya mendapat bantuan negara. Memang beginilah gambaran potret kemiskinan masyarakat kita. Banyaknya gelandangan dan pengemis yang menyerbu kota-kota besar seperti Jakarta.
Bencana Alam
          Sepanjang tahun ini banyak bencana alam yang menakutkan. Kebakaran, kebanjiran, gunung meletus, dan lainnya yang menimbulkan banyak korban materi dan jiwa.sejumlah permasalahan tersebut perlu mendapatkan perhatian serius khususnya para calon pemimpin bangsa mendatang. Lembaran hitam sejarah bangsa itu hendaknya dijadikan pelajaran berharga sekaligus mengambil hikmah dari persoalan itu. Oleh karena itu, pemimpin mendatang harus membela dan berpihak kepada wong cilik, bukan justru wong cilik dijadikan sebagai komoditas politik sesaat. Yang lebih penting lagi adalah penegakan hokum, membangun bangsa yang bermoral dam beradab, mengembangkan SDM yang berkualitas dan professional agar kita tidak menjadi kuli terus menerus makin terpinggirkan di negeri sendiri.

Sumber : Muhammad Jafar Anwar
               Staf pengajar Universitas Ibnu Chaldun Jakarta

0 komentar to “Sosial Ekonomi yang Rapuh”

Posting Komentar

Back (9)1234 Next
 

Sedikit Hal yang Ku Ketahui Copyright © 2011 -- Template created by Hendrynoer