DARI KORUPSI SAMPAI PORNOGRAFI
Tersiar berita bahwa Indonesia termasuk negara yang paling KORUP di dunia. Yang paling tidak KORUP adalah negara-negara Skandinavia. Setelah itu, juga tersiar berita bahwa Indonesia adalah negara yang termasuk paling PORNO. Di bulan puasa, saya merenungi kedua “paling” itu. Paling KORUP dan paling PORNO. Bukankah ibaratnya telah mempermalukan kita semua sebagai bangsa? Apalagi sebagian besar bangsa ini adalah orang-orang yang beragama?
Predikat paling KORUP sebenarnya sudah lama kita dengar. Kita sendiri merasakan, betapa KORUPSI telah membelit negeri kkita ini. Bung Hatta bahkan telah mengakui KORUPSI telah membudaya. Beberapa kali ada upaya untuk melakukan pemberantasan KORUPSI, namun selalu gagal dan gagal. Tetapi kalo predikat paling PORNO, rasanya baru sekarang terdengar. Bahwa banyak keluhan masyarakat terhaadap tayangan televise ataupun media cetak yang menampilkan PORNOGRAFI memang semakin sengit terdengar. Tetapi, mengapa masyarakat kita senang dengan tayangan atau media cetak seperti itu? Buktinya tayangan televise ataupun media cetak seperti itulah yang ternyata laku. Ibaratnya seperti pisang goring. Mengapa?
KORUPSI, agaknya terkait dengan System Ekonomi dan Kesejahteraan Rakyat. Kalau rakyat sejahtera, buat apa KORUPSI? Bukankah gaji kita, gaji Pegawai Negeri Sipil dan militer kita memang rendah? Untuk dapat menutupi kebutuhan keluarga? Setidaknya banyak yang KORUPSI masalah waktu. Ditengah jam kerja memiliki pekerjaan lain. Dokter-dokter saja sengaja praktek di Rumah sakit lain disaat jam kerja. Meskipun mereka pegawai sebuah RS pemerintah. Yang lain? Tentunya tidak mudah. Kalau kebutuhan mendesak, memang sulit untuk tudak KORUPSI. Inilah KORUPSI mini yang tujuannya sekedar untuk memenuhi kebutuhan ramahtangganya.
Tetapi, KORUPSI yang terjadi di Indonesia terkadang memang sangat spektakuler. Bagaimana bisa mencapai angka bermilyar-milyar rupiah terkadnag sulit tuk dipahami. Itulah yang terjadi di Indonesia. KORUPSI, tidak hanya memenuhi kebutuhan rumah-tangganya, tetapi jauh di luar kebutuhan itu. Mengapa bias terjadi? Karena Sistem Ekonomi dan Kesejahteraan kita memang membuka peluang untuk KORUPSI.
Mengapa di negara-negara Skandinavia ataupun Singapura KORUPSI sangatlah rendah, bahkan nyaris bersih? Sebabnya karena, Sistem Ekonomi dan Kesejahteraannya. Negara-negara Skandinavia sebagaimana kita ketahui telah menjadi model negara “kesejahteraan”. Bukan “welfare state”, dimana seluruhnya ditanggung negara, tetapi negara membuka peluang yang seluas-luasnya untuk menciptakan kesejahteraan dengan keikut-sertaan masyrakat itu sendiri. Hampir seluruh perusahaan di negara-negara Skandinavia, tenaga kerja di perusahaan itu menjadi pemilik perusahaan itu melalui koperasi karyawan perusahaan itu. Karyawan, dengan demikian ikut menjadi pemilik. Mereka terlibat dalam manajemen, sehingga manajemen juga dikontrol oleh seluruh karyawan. Bagamana bisa KORUPSI? Selain itu, mereka juga menikmati keuntungan perusahaan dan memperoleh gaji dari perusahaan. Hal ini berarti adanya pemerataan pendapatan diantara karyawan perusahaan itu. Kalau semua perusahaan dimiliki oleh karyawan, bagaimana bias KORUPSI? Selanjutnya seluruh kebutuhannya dari kesehatan sampai pension dipenuhi ketika ,mereka tidak lagi bekerja. Buat apa KORUPSI?
Demikian juga Singapura, Negara Asia yang termasuk bersih dari KORUPSI. Seluruh penduduk negara pulau itu mengikuti program tabungan “Central Provident Found”( CPF ), yang diperlukan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Ketika mereka bekerja sekitar 40% gajinya dipotong untuk CPF. Dana ini merupakan tabungan untuk mencukupi kebutuhan kesehatan, hari tua, dan lain sebagainya. Buat apa KORUPSI? Selain itu, dana CPF diinvestasikan ke berbagai program yang aman dan menguntungkan, sehingga memberi nilai lebih bagi pesertanaya dan member peluang terbukanya lapangan kerja melalui projek-projek investasi atau pembukaan lapangan kerja baru yang dibiayai dana CPF itu. Buat apa KORUPSI?
Semua itu tidak dimiliki oleh Indonesia. Disaat bekerja, kita sudah berfikir bagaimana nanti kalo pensiun. Percayakah anda bahwa sebagian besar “manula” tidak memiliki jaminan pensiun dan jaminan kesehatan ketika mereka sakit? Program Jamsostek tidak mencakup program pensiun, sementara THT-nya hanaya kecil. Kesehatan usai bekerja? Tidak ada!
Karena itu, kita tidak bias berbicara memberantas KORUPSI tanpa disertai membangun Sistem Ekonomi dan Kesejahteraan yang dengan sendirinya akan mencegah terjadinya KORUPSI. Kalau tidak, maka penjara kita mungkin akan penuh dengan orang-orang yang tertuduh KORUPSI.
Bagaimana dengan PORNOGRAFI? Sama saja. Lingkungan kita rasanya sangat rawan dengan PORNOGRAFI. Video PORNO yang dijual dimana-mana , tayangan televise yang sering mengundang atau nyrempet PORNOGRAFI. Bahkan iklan radio pun sudah nyrempet PORNOGRAFI. Konon, kalau tidak begitu kurang laku. Mau apa lagi?
Saya khawatir, meskipun setiap bulan puasa kita menutup hibuan-hiburan maksiat, PORNOGRAFI masih berjalan terus. Bahkan semakin hebat, karena bebas diadarkan. Sampai kapan?
Inilah pertanyaan yang sulit tuk dijawab. Sementara kemiskinan fisik/ materi terus berlanjut, kemiskinan rohani juga terus berlanjut, korupsi, pornografi semakin meluas. Kapan kita mempunyai pemerintah yang kepemimpinannya peduli mengurangi KORUPSI dan PORNOGRAFI melalui pendekatan system, yaitu system yang mampu membangun Sistem Ekonomi, Kesejahteraan, dan Peradaban yang bermartabat.
boleh-boleh...
hahhahaha
asheekk yya mas beroo
maw tanya gan. apa politik itu bisa masuk ke agama, pdahal agama saja bisa masuk ke politik
bisa saja gan..
kalo ada kesempatan dalam kesempitan,kenapa tidak?